Pemimpin Daerah Yang Patut Ditiru :Om Zein Naik Angkot

Karya Pena.co – Pagi itu, Rabu, 6 Mei 2026 udara sejuk menyapa Desa Hegarmanah. Namun, ada pemandangan yang berbeda dan begitu menyentuh hati. Di saat para pemimpin daerah biasanya berangkat kerja dengan kemewahan dan pengawalan ketat, Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein justru memilih cara yang jauh berbeda.

Bupati yang kerap disapa Om Zein itu, dengan tenang dan santai, ia mencegat angkutan umum (angkot) berwarna kuning. Tidak sendirian, ia mengajak istri serta ajudannya untuk ikut merasakan langsung denyut nadi kehidupan rakyat jelata dari balik jendela kendaraan umum tersebut.

Di dalam kabin angkot suasana terasa begitu hangat. Tampil dengan pakaian putih bersih dan ikat kepala khasnya, Om Zein duduk bukan sebagai seorang pejabat tinggi, melainkan layaknya seorang kawan lama yang baru bertemu.

Obrolan ringan pun mengalir akrab di tengah suara mesin dan hiruk-pikuk jalanan. Dengan tawa renyah, ia berpesan kepada sang pengemudi, “Nanti kalau ada yang nanya, ‘Siapa itu?’, bilang aja teman lama ya, Pak?”

Baca Juga:  Awak Media Dan Influencer Ikuti Sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan Purwakarta Tentang Program Jaminan Sosial

Kalimat sederhana itu mengandung makna yang sangat dalam. Ia ingin meruntuhkan tembok pemisah yang seringkali kaku antara birokrasi dan masyarakat. Baginya, tidak ada jarak antara pemimpin dan rakyat, karena pada hakikatnya kita semua adalah saudara.

Sepanjang perjalanan, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Ia melambaikan tangan kepada siapa saja yang mengenali, menikmati pemandangan kota, dan benar-benar hadir di tengah kehidupan masyarakat, bukan terisolasi di balik kaca mobil yang gelap.

Momen paling menyentuh terjadi saat rombongan mendekati area Bank BJB di Jalan Jenderal Sudirman. Alih-alih meminta fasilitas khusus, Om Zein justru memikirkan kenyamanan orang lain. “Nanti saya turun di depan situ saja ya, biar Bapak nggak susah muternya,” ujarnya lembut

Baca Juga:  Masyarakat Kelurahan Cipaisan Lakukan Ngosrek Bareng Di Sekitar Jalan Kaum

Ia lebih rela berjalan kaki sedikit lebih jauh, daripada harus membebani sopir angkot untuk melakukan manuver sulit di tengah kemacetan. Ini adalah bukti nyata dari hati yang tulus; sebuah kesadaran bahwa jabatan bukan untuk menuntut pelayanan, melainkan untuk belajar menghargai dan meringankan beban sesama.

Kebiasaan sederhana ini terus berlanjut saat ia turun dari kendaraan. Di areal parkir, ia berbincang dengan petugas dan warga sekitar dengan sikap yang tenang, penuh hormat, dan mendengarkan dengan sepenuh hati. Tidak ada nada komando, yang ada hanyalah dialog manusiawi.

Perjalanan pagi ini bukan sekadar berpindah tempat dari rumah ke kantor. Melalui tiga kali perpindahan angkot, dari jalur kuning, jalur 07, hingga jalur 01, Om Zein telah mengirimkan pesan yang sangat kuat.

Baca Juga:  Pelantikan Rotasi 14 Pejabat Eselon II Dilaksanakan Om Zein Di Area Persawahan

Bahwa jabatan hanyalah sementara, namun kemanusiaan adalah abadi. Bahwa pemimpin yang besar bukan yang selalu ditinggikan, melainkan yang mampu merendah dan merasa setara dengan rakyatnya.

Ia tidak hanya sampai di kantor, tapi perjalanan ini telah membawa namanya semakin dekat dan menancap kuat di hati warganya. Sebuah pelajaran berharga, bahwa kesederhanaan dan kerendahan hati adalah mahkota kepemimpinan yang paling indah.

(**Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *